Tak Cukup Panther, TNI AL Butuh Helikopter Berat Sekelas NH90

13 Oktober 2026

Helikopter Airbus NH90 (photo: Airbus)

Toulon, IDM – Armada helikopter AS565 MBe Panther milik penerbangan TNI AL dinilai belum cukup ideal untuk memaksimalkan kapabilitas peperangan antikapal selam di wilayah perairan Indonesia. Ukuran fisik helikopter tersebut menjadi penghalang utama untuk membawa sistem sonar canggih berukuran besar.

Keterbatasan itu diungkapkan oleh Penasihat Operasional Sistem Bawah Air dari Thales Group, Olivier Ageorges, saat ditemui di tur Euronaval, Toulon, Prancis, Rabu (7/10). Ia menyebut helikopter Panther bawaan TNI AL saat ini baru sebatas mengoperasikan perangkat pelacak suara lepasan atau sonobuoy.

“Kami sudah berdiskusi cukup lama dengan Indonesia soal kemampuan sonar celup FLASH. Karakter laut Anda sangat luas, gabungan antara selat, laut dangkal, sampai laut dalam, jadi penanganannya tidak bisa disamakan,” ujar Olivier kepada Indonesia Defense Magazine.

Olivier menceritakan, Indonesia sebenarnya sudah memborong paket peperangan antikapal selam udara pada tahun lalu. Namun, ruang angkut helikopter Panther yang terbatas membuat TNI AL belum bisa memasang sonar celup (dipping sonar) kelas berat seperti FLASH (Folding Light Acoustic System for Helicopters).

“Negara Anda sudah mengadopsi paket antikapal selam udara pertama tahun lalu, tapi bukan pakai FLASH, melainkan sonobuoy. Perangkat itu yang terpasang di helikopter Panther Anda sekarang,” kata Olivier.

Helikopter AS565 MBe Panther (photo: Fransesco Andrea)

Untuk menjangkau keberadaan kapal selam di celah-celah selat strategis, TNI AL butuh armada udara berspesifikasi lebih tinggi. Pengoperasian sonar celup FLASH menuntut platform helikopter kelas sedang hingga berat.

“Supaya bisa mengoperasikan sonar FLASH, mereka butuh helikopter yang lebih besar sekelas NH90. Ini bisa jadi opsi tambahan buat menjawab kebutuhan operasional di sana,” tutur Olivier.

Kebutuhan akan helikopter peperangan antikapal selam kelas berat ini beririsan dengan peninjauan alutsista yang gencar dilakukan jajaran pimpinan TNI AL ke Eropa. Saat melawat ke Italia hingga ajang Paris Air Show, delegasi Angkatan Laut sempat membedah spesifikasi helikopter NH90 NFH (NATO Frigate Helicopter) yang dilengkapi sonar celup FLASH Mk1, torpedo MU90, serta rudal antikapal Marte ER.

Langkah tersebut makin diperkuat lewat kerja sama pelatihan penerbang antara Indonesia dan Prancis di bidang pengawasan maritim (maritime surveillance) dan peperangan bawah laut.

Di sisi lain, dalam paparan teknologi sonar Thales di Toulon, Prancis, Jumat (9/10), Thales membeberkan ekosistem pelacak bawah air berbasis penggabungan data (data-fusion) Bluetracker. Sistem ini memadukan sonar kapal permukaan, sonar celup helikopter, hingga pelampung SonoFlash yang menggabungkan mode aktif-pasif sekaligus untuk meminimalkan alarm palsu saat mendeteksi kapal selam siluman di perairan kompleks.

(IDM)


from DEFENSE STUDIES https://ift.tt/GMWygcC
via IFTTT