Indonesia-Airbus Perkuat Ekosistem Industri Kedirgantaraan Indonesia
09 Mei 2026
from DEFENSE STUDIES https://ift.tt/mHdlvZ3
via IFTTT
Penanda-tanganan kerjasama strategis Bappenas-Airbus (photo: Bappenas)
RI Capek Jadi Pembeli, Kini Gandeng Airbus Biar Ikut Produksi Pesawat
Jakarta - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) resmi menjalin kerja sama strategis untuk penguatan ekosistem dirgantara nasional dengan salah satu produsen pesawat terbesar di dunia, Airbus.
Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan dokumen Joint Declaration of Intent (JDI) antara Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy dan Presiden Airbus Asia-Pacific Anand Stanley di Kantor Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta Pusat, pagi ini.
Rachmat mengatakan kerja sama penguatan ekosistem dirgantara Indonesia tersebut tidak hanya mencakup aspek pengadaan pesawat, tetapi juga menyasar pengembangan industri terkait.
"Pengembangan industri kedirgantaraan Indonesia harus dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya sebatas transaksi dan pemakaian pesawat, namun harus lebih luas lagi, yaitu mencakup rantai pasok industri pesawat terbang," ujarnya dalam acara penandatanganan JDI dengan Airbus di Kantor Bappenas, Jakarta Pusat, Rabu (6/5/2026).
Pabrik di Kertajati
Dalam konteks ini, penguatan industri yang dimaksud mencakup pengembangan sumber daya manusia, sistem perawatan dan pemeliharaan (maintenance, repair, and overhaul/MRO), serta peningkatan kapasitas industri dalam negeri agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga pusat pertumbuhan industri dirgantara kawasan.
"Karena dalam catatan saya, satu unit pesawat A320 saja misalnya membutuhkan 4 juta komponen dari 30 negara, termasuk Indonesia. Dengan perlakuan dan perkuatan kapasitas industri kedirgantaraan Indonesia, kita tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga bagian dari rantai pasok dan nilai global," katanya.
"Harapannya PTDI bisa menjadi tier 1 supplier bagi Airbus, yang artinya PTDI bisa mulai membuat sayap utuh A320 atau bahkan pesawat, yang nanti akan membangun pabrik di Kertajati. Untuk itu diperlukan peningkatan standarisasi, kualitas layanan, efisiensi operasional, pemanfaatan teknologi, serta tidak kalah penting penguatan sumber daya manusianya," sambung Rachmat.
Selain itu, menurutnya pengembangan industri dan ekosistem kedirgantaraan ini juga penting mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan yang membutuhkan sektor penerbangan kuat sebagai salah satu penopang konektivitas nasional.
"Untuk menjawab kebutuhan tersebut, tentunya diperlukan ekspansi kapasitas armada udara, yang saat ini jumlah armada aktif berada di kisaran 550 unit dan diproyeksikan akan meningkat lebih dari tiga kali lipat menjadi 1.900 unit pada tahun 2045," kata Rachmat.
Dalam kesempatan yang sama, Presiden Airbus Asia-Pacific Anand Stanley mengatakan kerja sama antara produsen pesawat asal Eropa tersebut dengan Indonesia telah berlangsung selama lebih dari 50 tahun sejak 1976.
Menurutnya, sejak saat itu kerja sama antara Airbus dengan Indonesia terus berkembang, termasuk pada sektor manufaktur sejumlah komponen pesawat A320, A330, A350, dan H225.
"Komponen A320, A330, A350, H225 diekspor dari Indonesia. Anda juga telah membantu kami dalam mendukung pembangunan kapital manusia selama 50 tahun. Lebih dari itu, kami juga mendukung pembangunan kapital manusia, mulai dari pilot, engineer, hingga teknisi. Salah satu bagian besar dari perkembangan yang Airbus percaya adalah di daerah MRO," ujarnya.
Melalui kerja sama strategis ini, Airbus ingin Indonesia memperkuat rantai pasok perusahaan untuk komponen produk pesawat hingga helikopter lainnya, termasuk pengembangan SDM dan teknisi pemeliharaan pesawat.
"Kami ingin berkongsi untuk membangun, bukan hanya A320 dan A330, tetapi juga produk lainnya untuk mencapai standar global," kata Stanley.
(Detik)
from DEFENSE STUDIES https://ift.tt/mHdlvZ3
via IFTTT



Post a Comment