TUDM Mungkin Akan Mengirim Su-30MKM ke India untuk Perawatan

17 Februari 2026

Fasilitas HAL untuk Su-30MKI di Nashik, India (photo: DefenceIN) 

KUALA LUMPUR: Malaysia sedang menjajaki kemungkinan mengirim jet tempur Sukhoi milik Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM) ke India untuk pekerjaan perawatan, perbaikan, dan balik-pulih/upgrade (MRO) menyusul kesulitan mendapatkan layanan di Rusia karena sanksi internasional.

Menteri Luar Negeri Datuk Seri Mohamad Hasan mengatakan India telah menawarkan alternatif untuk pesawat buatan Rusia, karena negara tersebut memiliki kapasitas untuk memproduksi suku cadang dan merawat pesawat.

Ia mengatakan masalah ini dibahas dan diputuskan selama kunjungan resmi Perdana Menteri India Narendra Modi ke Malaysia akhir pekan lalu.

Malaysia, India, dan Vietnam juga memiliki banyak kesamaan dalam hal aset, terutama aset TUDM, termasuk penggunaan pesawat Sukhoi.

"Kami sedang membahas bagaimana kami dapat mengirim dan membangun hubungan, terutama dalam hal MRO karena India memiliki banyak aset Sukhoi dan negara tersebut dapat memproduksi suku cadang.

"Kami mengalami masalah dalam mengirim suku cadang atau merawat mesin jet tempur Sukhoi ke Rusia." Kita bisa mengirim, tetapi kita tidak bisa membayar karena Rusia dikenai sanksi oleh Amerika Serikat (AS), dan kita tidak bisa membayar melalui 'swift' atau pembayaran biasa.

"Sekarang, India memberi kita kesempatan untuk mengirim dan memperbaiki (suku cadang) atau melakukan MRO (Maintenance, Repair, and Overhaul) mesin jet tempur Sukhoi ini di India," katanya saat Sesi Tanya Jawab Menteri di Dewan Rakyat, di sini, hari ini.

Ia menjawab pertanyaan asli dari Lim Guan Eng (PH-Bagan) tentang hasil perdagangan dan keamanan regional setelah kunjungan Modi ke Malaysia pekan lalu dan sejauh mana Malaysia dan India dapat mengambil langkah bersama untuk melawan penerapan tarif oleh AS.

Saat ini, Angkatan Udara Kerajaan Malaysia (RMAF) memiliki 18 pesawat Sukhoi Su-30MKM yang bersertifikasi operasional hingga tahun 2035.

Malaysia menandatangani kontrak senilai US$900 juta pada Agustus 2003 untuk membeli 18 jet tempur tersebut dari Rusia, dengan pengiriman dimulai pada tahun 2007.

Pada Agustus tahun lalu, Menteri Pertahanan Datuk Seri Mohamed Khaled Nordin mengumumkan bahwa Kementerian Pertahanan akan meng-upgrade jet tempur Sukhoi jika akuisisi jet tempur F/A-18 Hornet bekas dari Kuwait memakan waktu lama.

Ia mengatakan kementeriannya berencana untuk melakukan upgrade pesawat Sukhoi pada tahun 2030 jika Malaysia belum mengakuisisi pesawat tersebut.

(Berita Harian)



from DEFENSE STUDIES https://ift.tt/e9Sdr3A
via IFTTT