HD Hyundai dan Hanwha Ocean Bersaing Sengit untuk Pesanan Kapal Selam Filipina Senilai 2 Triliun Won

06 Agustus 2026

Hanwha KSS-III PN (image: Hanwha Ocean)

HD Hyundai Heavy Industries dan Hanwha Ocean, dua pilar utama industri galangan kapal Korea, telah memasuki persaingan sengit dalam tender proyek pengadaan kapal selam generasi terbaru untuk Angkatan Laut Filipina, yang bernilai sekitar 2 triliun won.

Menurut media maritim dan pertahanan Polandia 'Gospodarka Morska' serta sumber-sumber lokal pada tanggal 31 Agustus (waktu setempat), persaingan ketat sedang memanas antara perusahaan-perusahaan Korea dan galangan kapal pertahanan utama Eropa. Hal ini terjadi menjelang akhir tahun, saat pemilihan akhir model untuk proyek pengadaan kapal selam pertama Angkatan Laut Filipina—yang saat ini belum memiliki armada kapal selam—akan segera diputuskan.

Setelah melewati tahap koordinasi untuk inisiatif 'Export One Team' yang digagas oleh Defense Acquisition Program Administration (DAPA), kedua galangan kapal kini berupaya memenangkan dukungan otoritas Manila melalui proposal independen yang menonjolkan keunggulan masing-masing.

HD Hyundai Heavy Industries mengandalkan reputasi kepercayaan militer yang tak tertandingi, yang dibangun melalui keberhasilan pengiriman berturut-turut kapal permukaan kepada Angkatan Laut Filipina, termasuk fregat kelas Jose Rizal, kapal patroli kelas Miguel Malvar, dan kapal patroli lepas pantai (OPV) kelas Rajah Suleyman. Selain itu, perusahaan ini menawarkan platform 3.000 ton yang disesuaikan berdasarkan rekam jejak pembangunan kapal ketiga KSS-III Batch-I (Shin Chae-ho), serta model ekspor 2.300 ton miliknya sendiri, 'HDS-2300', yang dioptimalkan untuk operasi di perairan dangkal Asia Tenggara.

Hanwha Ocean, yang mengandalkan keunggulan teknologi dari keberhasilan pembangunan dan pengiriman kapal Dosan An Chang-ho (No. 1) dan Anmu (No. 2), mengajukan model terbaru 'KSS-III Batch-II'. Model ini memiliki daya tahan menyelam terlama di antara kapal selam diesel yang ada saat ini, berkat kombinasi baterai litium-ion dan sistem Air Independent Propulsion (AIP). Keunggulan yang ditawarkan mencakup solusi menyeluruh (turnkey), mulai dari pembangunan pangkalan khusus kapal selam dan infrastruktur MRO (pemeliharaan, perbaikan, dan perombakan) hingga paket pelatihan awak, yang disesuaikan dengan kondisi Angkatan Laut Filipina yang baru pertama kali mengoperasikan kapal selam.

Selain Korea Selatan, galangan kapal angkatan laut terkemuka dari Eropa juga turut bersaing dalam proyek kapal selam Filipina, sehingga menciptakan lanskap persaingan yang melibatkan berbagai pihak.

Hyundai HDS-2300 (image: HD HHI)

Naval Group asal Prancis memanfaatkan dominasinya di pasar Asia Tenggara, berbekal pengalaman mengekspor kapal selam kelas 'Scorpène' secara berturut-turut ke Malaysia dan Indonesia, serta rekam jejak pembangunan kapal secara lokal di India.

Fincantieri dari Italia mengajukan kapal selam kelas U212NFS melalui kemitraan teknis dengan TKMS asal Jerman, sembari memanfaatkan rekam jejak ekspor kapal patroli ke Indonesia baru-baru ini dalam penawaran tersebut. Navantia dari Spanyol juga mengajukan kelas S-80 Plus, namun riwayat keterlambatan pengiriman domestik dan kegagalan mendapatkan pesanan luar negeri dianggap sebagai kelemahan mereka.

Alasan utama Filipina berupaya keras untuk mengakuisisi kapal selam pertamanya adalah untuk membendung tindakan China yang semakin terang-terangan melanggar kedaulatan maritim dan melakukan provokasi bersenjata di wilayah Kepulauan Spratly, Laut China Selatan (Laut Filipina Barat). Para ahli militer meyakini bahwa pengerahan satu atau dua kapal selam siluman canggih saja di perairan Filipina—yang memiliki karakteristik perairan dangkal dan dalam—dapat memberikan efek gentar (deterrence) secara psikologis maupun taktis terhadap manuver kapal permukaan dan kapal selam Angkatan Laut China.

Bersamaan dengan proyek kapal selam besar NATO di Polandia (Eropa) dan Kanada (Amerika Utara), keberhasilan mendapatkan pesanan kapal selam dari Filipina—sekutu penting di Asia Tenggara dengan kedekatan geografis—diharapkan menjadi titik balik krusial bagi perluasan pasar ekspor kapal selam industri pertahanan maritim Korea (K-maritime) di kawasan Asia-Pasifik di masa depan.



from DEFENSE STUDIES https://ift.tt/Sp6uzcx
via IFTTT