Singapura Memperkuat Kemampuan Peperangan Ranjau dengan AUV COMET-MCM Buatan Prancis
06 Agustus 2026
from DEFENSE STUDIES https://ift.tt/Ow7FYKP
via IFTTT
Kendaraan bawah air otonom/ autonomous underwater vehicles (AUV) RTsys COMET-MCM (photos: RTsys)
Republic of Singapore Navy (RSN) telah mengerahkan kendaraan bawah air otonom/ autonomous underwater vehicles (AUV) COMET-MCM buatan RTsys Underwater Technologies untuk meningkatkan kemampuan penanggulangan ranjau. Langkah ini menandai tonggak penting dalam upaya modernisasi angkatan laut tersebut serta adopsi operasional sistem yang dikembangkan di Prancis ini.
Dikembangkan oleh RTsys yang berbasis di Prancis bekerja sama dengan Defence Science and Technology Agency (DSTA) Singapura, COMET-MCM dirancang untuk mendeteksi, melokalisasi, dan mengidentifikasi ranjau laut secara otonom dengan presisi tinggi pada tahap awal operasi penanggulangan ranjau.
Pengerahan ini sangat signifikan mengingat pentingnya posisi strategis Selat Singapura—salah satu koridor maritim tersibuk di dunia—yang dilalui oleh sekitar 150.000 kapal setiap tahunnya. Gangguan apa pun yang disebabkan oleh ancaman bawah air, termasuk ranjau laut, dapat berdampak serius terhadap perdagangan regional maupun global.
Dilengkapi dengan sonar *side-scan* beresolusi tinggi, COMET-MCM mampu beroperasi secara otonom selama lebih dari 12 jam untuk memetakan area bawah air yang luas dengan akurasi posisi yang tinggi. Misi diprogram sebelumnya sebelum peluncuran, sehingga memungkinkan AUV melakukan pengintaian sekaligus mengurangi beban kerja operator dan meminimalkan risiko paparan personel terhadap lingkungan berbahaya.
Menurut RTsys, data yang dikumpulkan oleh COMET-MCM diintegrasikan ke dalam arsitektur penanggulangan ranjau Angkatan Laut Singapura yang lebih luas, melengkapi informasi yang diperoleh dari sistem sonar di kapal pemburu ranjau (*minehunter*). Data yang terkumpul mendukung seluruh rangkaian operasi peperangan ranjau, mulai dari deteksi, klasifikasi, identifikasi, hingga netralisasi.
Ketika kontak yang mencurigakan terdeteksi, objek tersebut dapat diselidiki lebih lanjut menggunakan sistem yang dioperasikan dari jarak jauh atau oleh penyelam yang dilengkapi dengan sonar genggam khusus, termasuk sistem SONADIVE buatan RTsys.
Program ini dikembangkan melalui kerja sama erat antara Angkatan Laut Republik Singapura, DSTA, dan RTsys. DSTA mengelola integrasi sistem agar memenuhi kebutuhan operasional angkatan laut, sementara RTsys berkontribusi dengan keahliannya di bidang robotika bawah air otonom dan teknologi akustik.
Wahana COMET-MCM diproduksi di fasilitas RTsys di Lanester, Brittany, dan telah menjalani serangkaian uji operasional yang ekstensif untuk memvalidasi kinerjanya. Menurut perusahaan tersebut, sistem ini mampu mengirimkan data pelacakan secara *real-time* kepada operator di permukaan, sehingga meningkatkan kesadaran situasional dan kemampuan pengambilan keputusan selama misi berlangsung.
“COMET-MCM merupakan hasil kerja sama selama lebih dari satu dekade dengan berbagai angkatan laut di seluruh dunia. Pengerahan operasionalnya oleh Angkatan Laut Republik Singapura menjadi bukti lebih lanjut atas keahlian kami di bidang robotika bawah air dan akustik. Hal ini menunjukkan kemampuan kami dalam memenuhi standar ketat angkatan laut paling maju di dunia guna mengatasi tantangan dalam peperangan ranjau,” ujar Pierre-Alexandre Caux, Direktur Penjualan di RTsys Underwater Technologies.
Angkatan Laut Republik Singapura menyoroti pentingnya kemampuan ini dalam mengamankan salah satu jalur pelayaran paling krusial di dunia.
“Selat Singapura merupakan jalur vital bagi perdagangan global. Dengan adanya COMET-MCM, kami meningkatkan kemampuan untuk mendeteksi dan mengidentifikasi ancaman bawah air dengan tingkat presisi dan efisiensi yang lebih tinggi, sekaligus menjamin keselamatan awak kami,” demikian pernyataan pihak angkatan laut.
from DEFENSE STUDIES https://ift.tt/Ow7FYKP
via IFTTT





Post a Comment