TNI AL Siapkan Konsep ‘Air Wing Mobile’, Kekuatan Udara Kini Bisa Diproyeksikan ke Mana Saja
19 Mei 2026
Kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi C-551 yang dihibahkan ke Indonesia (image: Shipbucket)Jakarta, IDM – TNI AL tengah melakukan lompatan besar dalam doktrin pertahanan maritim melalui pematangan konsep Air Wing Mobile. Strategi ini memungkinkan unit sayap udara tidak lagi bergantung pada pangkalan darat, melainkan dapat diproyeksikan sepenuhnya dari geladak kapal perang (sea-based) untuk mendukung berbagai misi operasi.
Langkah tersebut bertujuan membangun kultur operasi penerbangan laut modern yang terintegrasi secara total dengan unsur KRI di masa depan. Pusat Penerbangan Angkatan Laut (Puspenerbal) kini memiliki tiga Wing Udara yang mengemban tugas pokok membina kemampuan skuadron di bawahnya, mencakup alutsista helikopter, pesawat sayap tetap, hingga wahana udara nirawak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV).
Drone stealth Kizilelma beroperasi dari kapal induk TCG Anadolu (photo: Turkish MoD)
Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) Laksma TNI Tunggul menjelaskan, unit sayap udara ini dirancang untuk memiliki mobilitas tinggi. Artinya, unsur udara tersebut mampu dikerahkan secara fleksibel, baik dari pangkalan daratan maupun langsung dari atas kapal perang yang sedang beroperasi.
"Unit Air Wing ini bersifat mobile, bisa diproyeksikan ke KRI maupun di daratan,” jelas Tunggul saat dihubungiIndonesia Defense Magazine di Jakarta, Kamis (14/5).
Standar Tinggi Personel Inti
Persiapan infrastruktur udara ini berjalan beriringan dengan penyiapan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni. Asisten Operasi Kepala Staf Angkatan Laut (Asops KSAL) Laksda TNI Yayan Sofiyan menekankan, kualifikasi personel menjadi kunci utama, mengingat pengoperasian pangkalan udara terapung membutuhkan keahlian di atas rata-rata.
TNI AL setidaknya telah menyiapkan 500 prajurit pilihan sebagai kru inti untuk mengawaki teknologi penerbangan yang terintegrasi. Para perwira dituntut menguasai teknologi aviasi tingkat tinggi karena kapal induk masa depan, seperti ITS Giuseppe Garibaldi yang diprediksi bakal menjadi pusat operasi berbagai jenis drone.
Drone MALE TB3 beroperasi dari kapal induk TCG Anadolu (photo: ANews)Kultur Operasi Laut Modern
Transformasi doktrin ini terlihat nyata melalui pembangunan media simulasi geladak helikopter di Skuadron Udara 100 Wing Udara 2. Fasilitas instruksi tersebut berfungsi sebagai sarana familiarisasi atau pengenalan adaptif bagi para penerbang untuk memahami karakteristik pendaratan di atas dek kapal secara presisi.
Melalui simulasi tersebut, para pilot melatih ketepatan, koordinasi, serta aspek keselamatan penerbangan dalam kondisi laut yang menantang. Fokus latihan tidak lagi terbatas pada operasional pangkalan darat, melainkan perubahan pola pikir menuju integrasi penuh dengan armada kapal kombatan.
Helikopter NH-90 ASW yang baru saja dikunjungi sebelumnya diduga akan segera bergabung ke TNI AL (photo: Airbus Helicopter)Meskipun persiapan teknis dan SDM terus dipacu menuju target kedatangan alutsista pada Oktober 2026, TNI AL menegaskan, penamaan unsur KRI baru masih dalam tahap pengkajian mendalam. Hingga saat ini, belum ada dasar penetapan resmi mengenai identitas kapal perang yang akan menjadi instrumen diplomasi maritim Indonesia tersebut.
(IDM)
from DEFENSE STUDIES https://ift.tt/RCOsbpo
via IFTTT





Post a Comment