Awal Hingga Akhir, Perjalanan OV-10 Bronco di Langit Indonesia

17 Mei 2026

OV-10F Bronco TNI AU (photo: TNI AU)

OV-10 Bronco merupakan pesawat tempur ringan bermesin ganda dengan baling-baling, buatan North American Rockwell. Dirancang khusus untuk misi Counter Intergency atau anti gerilya, pesawat ini dikenal memiliki karakter lincah dan responsif, menjangkau jarak yang relatif jauh, serta unggul dalam efisiensi dan keandalan di berbagai kondisi operasi.

Dengan kecepatan sekitar 560 km/jam, daya angkut hingga 3 ton dan jaya jelajah lebih dari tiga jam, serta didukung visibilitas kokpit yang luas, kemampuan operasi di landasan pendek, termasuk landasan rumput, dan biaya operasional rendah, OV-10 Bronco sangat fleksibel untuk berbagai misi.

Indonesia mendatangkan pesawat ini sebanyak 16 unit secara bertahap antara tahun 1976 hingga 1977 untuk menggantikan peran P-51D Mustang.

OV-10F Bronco TNI AU (photo: TNI AU)

Dari segi persenjataan OV-10 Bronco dilengkapi empat senapan mesin kaliber 7,62 mm dan mampu membawa persenjataan eksternal hingga sekitar 750 kg, mulai dari bom 100-250 kg, hingga peluncur roket FFAR.

Kemampuan tersebut kemudian ditingkatkan oleh Indonesia dengan mengganti senapan mesin M60 kaliber 7,62 mm menjadi 12,7 mm, sebuah langkah progresif yang semakin memperkuat daya tempur pesawat bermesin ganda ini.

Awal kedatangannya pesawat ini menggunakan registrasi "S" atau Serang dan pada tahun 1979 diubah menjadi "TT" atau Tempur Taktis sesuai dengan perannya. Sejalan dengan pegadaannya, para penerbang dan teknisi juga diperispkan melalui pendidikan di Amerika Serikat.

OV-10F Bronco TNI AU (photo: DCS Indonesia)

Dalam perjalanannya, OV-10 Bronco menjadi kekuatan utama Skadron Udara 3 yang ber-home base di Lanud Abdulrahman Saleh. Seiring masuknya F-16 Fighting Falcon pada tahun 1989, pesawat ini kemudian ditetapkan sebagai Unit OV-10 Bronco pada 1 Mei 1990.

Selanjutnya, dengan diaktifkannya kembali Skadron Udara 1 pada 18 Desember 1990, OV-10 Bronco menjadi bagian dari kekuatan skadron tersebut hingga datangnya pesawat Hawk 100 dan 200 di tahun 1999.

Pada 18 Agustus 2004, pimpinan TNI AU melikuidasi Unit OV-10 Bronco dan mengaktifkan kembali Skadron Udara 21 dengan kekuatan pesawat OV-10 Bronco.

OV-10F Bronco TNI AU (photo: Museum Soesilo Soedarman)

Di lingkungan TNI AU, pesawat ini dikenal dengan dua julukan khas: "Kuda Liar" dan "Si Kampret". Julukan tersebut mencerminkan karakteristiknya yang tangguh, agresif, serta mampu terbang rendah dengan lincah dan gesit dalam menjalankan misi tempur taktis.

Sepanjang masa tugasnya, OV-10 Bronco terlibat dalam berbagai operasi dan latihan. Pada tahun 2007, pesawat ini resmi digrounded karena faktor usia, perannya digantikan EMB-314 Super Tucano.

Meski telah dinonaktifkan, jejak perjalanan OV-10 Bronco terpatri abadi di berbagai monumen dan museum, menjadi pengingat atas pengabdian panjangnya dalam menjaga kedaulatan udara Indonesia, diantaranya di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala.



from DEFENSE STUDIES https://ift.tt/1uInb6O
via IFTTT