Singapore dan Epirus Sepakat untuk Mempelajari Kemampuan Counter-UAS dengan High-Power Microwave

05 Februari 2026

Epirus memproduksi "Leonidas" yaitu susunan HPM berbasis galium nitrida (photos: Epirus)

SINGAPORE - Defense Science and Technology Agency (DSTA) Singapore dan Epirus yang berbasis di AS telah menandatangani nota kesepahaman untuk memajukan kemampuan anti-drone gelombang mikro daya tinggi/high-power microwave (HPM).

Pakta ini menandai kolaborasi pertama Epirus di kawasan Asia-Pasifik setelah serangkaian program dengan militer AS.

Berdasarkan perjanjian tersebut, para mitra akan berkolaborasi dalam penelitian, pengujian, dan evaluasi teknologi HPM terhadap ancaman drone canggih dalam berbagai skenario penyebaran. Kedua pihak mengatakan upaya tersebut akan mencakup pengujian terhadap drone yang dipandu serat optik dan yang didukung kecerdasan buatan, yang semakin dirancang untuk menghindari pengacauan frekuensi radio konvensional dan sistem peperangan elektronik.

DSTA menambahkan bahwa teknologi tersebut dapat digunakan untuk “memperkuat kemampuan Singapore dalam penanggulangan elektronik dan perlindungan aset penting.”

Epirus memproduksi susunan HPM berbasis galium nitrida Leonidas, yang dipilih oleh Angkatan Darat AS untuk program Kemampuan Perlindungan Tembakan Tidak Langsung - Gelombang Mikro Daya Tinggi/Indirect Fire Protection Capability-High Power Microwave. Perusahaan ini juga bermitra dengan General Dynamics Land Systems untuk mengintegrasikan Leonidas ke platform bergerak berbasis kendaraan lapis baja Stryker 8x8.

Meskipun parameter kinerja terperinci dari sistem Leonidas sebagian besar masih dirahasiakan, Epirus mengungkapkan bahwa pada Agustus 2025 sistem tersebut menunjukkan kemampuan untuk mengalahkan 49 drone dalam satu serangan gelombang mikro berenergi tinggi. Perusahaan ini juga sedang mengembangkan varian pod yang lebih kecil yang dirancang untuk diintegrasikan ke sistem pesawat tanpa awak (UAS), menyediakan opsi anti-drone HPM udara ketinggian rendah.

Kolaborasi ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran atas proliferasi UAS kecil, otonom, dan berkemampuan kawanan/berkelompok/swarm di kawasan Asia-Pasifik, khususnya yang menggunakan metode panduan non-tradisional yang mengurangi kerentanan terhadap serangan elektronik.

Waktu penandatanganan perjanjian ini menyusul akuisisi baru-baru ini oleh Singapore atas sejumlah kendaraan tempur infanteri beroda Terrex s5 8 x 8 dari ST Engineering. Kementerian Pertahanan mengatakan kendaraan tersebut—yang diberi nama Titan—akan dipersenjatai dengan meriam 30mm dan dilengkapi dengan fitur anti-UAS, yang menunjukkan dorongan yang lebih luas untuk mengintegrasikan pertahanan udara berlapis dan kemampuan anti-drone di tingkat taktis.

(Aviation Week)



from DEFENSE STUDIES https://ift.tt/fE5Odh1
via IFTTT